Find Us On Social Media :
Kepala BI Sulsel, Causa Iman Karana saat bertemu Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman membahas sinergitas dalam rangka pemulihan ekonomi (Sonora.id)

Genjot Peran TPID, Bank Indonesia Kawal Pemulihan Ekonomi di Sulawesi Selatan

Dian Mega Safitri - Senin, 1 November 2021 | 17:30 WIB

Makassar, Sonora.ID -Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan berkomitmen menjaga perekonomian tetap stabil. Salah satunya dengan menekan laju inflasi dan meningkatkan eskpor.

Hal itu diungkapkan Kepala BI Perwakilan Sulawesi Selatan, Causa Iman Karana usai menghadap Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, belum lama ini. 

Causa yang juga pimpinan baru BI Sulsel ini mengatakan, pihaknya akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Pemprov Sulsel. Apalagi saat ini, perekonomian Sulsel cukup tinggi. Sehingga kondisi tersebut harus senantiasa terjaga.

"Target kita menjaga inflasi, sistem pembayaran andal, juga tentunya bagaimana membantu Pemprov untuk sama-sama membangun perekonomian Sulsel lebih stabil. Karena Sulsel ini cukup tinggi ekonominya. Nah itu yang harus dijaga," ujar Causa kepada jurnalis di Makassar, baru-baru ini.

Baca Juga: Bank Indonesia dan Pemprov Jabar Jembatani Investor dengan UMKM

Menurut Causa, beberapa langkah strategis yang dilakukan BI antara lain mendorong peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bekerja lebih keras, diantaranya dalam hal pengembangan UMKM.

Selain itu, pihaknya bersama instansi terkait akan menggenjot sektor unggulan utama seperti pertanian.  Tak lupa juga sektor pariwisata,  jika situasi covid telah normal.

"Yang jelas kan kita tetap mendorong TPID lebih kerja keras. Kami juga akan mendorong sektor unggulan seperti pertanian dan pariwisata. Ini supaya bagaimana ekonomi Sulsel, maju dan suistanable, termasuk ekspornya," ungkap Causa.  

Sejauh ini, kata Causa, Sulsel memiliki sumber daya alam yang sangat menjanjikan untuk dieskpor. Salah satunya kopi, ikan, manufaktur, kakao dan nikel.

Baca Juga: Ekspor Perikanan Lewat Laut Naik 30 Persen Selama Pandemi Covid-19