Find Us On Social Media :
Pekan Gawai Dayak di Rumah Radakng, Pontianak, Kalbar. (Dok. Sonora Pontianak/Indri Rizkita)

Gubernur Kalbar Sutarmidji: Pekan Gawai Dayak Harus Dilestarikan 

Indri Rizkita - Jumat, 20 Mei 2022 | 17:45 WIB

Pontianak, Sonora.ID - Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-36, di Rumah Radakng, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Jumat (20/5).

Sutarmidji mengatakan, Pekan Gawai Dayak merupakan salah satu cagar budaya tak benda sehingga perlu dilesatrikan. 

“Kegiatan ini sudah menjadi kalender atau event wisata provinsi Kalbar. Kita perlu dukung terus setiap tahunnya. Dan saya juga berterima kasih penyelenggaraan tahun ini sudah menyesuaikan dengan kondisi transisi pandemi ke endemi, semoga benar-benar endemi sehingga tidak terjadi kasus baru,” ujarnya.

Sutarmidji menyampaikan, melalui Pekan Gawai Dayak ini diharapkan mampu menampilkan kesenian dan sumber daya Kalimantan Barat.

“Jadi saya sangat mendukung kegiatan ini. Rumah Radakng ini memang di bawah penanganan diknas dan anggarannya ada di diknas untuk perawatan dan sebagainya. Untuk anggaran, kemarin juga sudah kita anggarkan tentu semakin besar momen event ini juga akan semakin besar anggarannya. Sanggar aja ada 54, yang aktif 43, itu kan perlu biaya juga untuk latihan dan sebagainya,” terang Sutarmidji.

Baca Juga: Lakukan Audiensi, Konjen RI di Sarawak Harap PLBN Indonesia-Malaysia di Kalbar Bisa Optimal

Sementara itu, Anggota DPR RI asal Kalbar, Lasarus mengaku sangat bersyukur Pekan Gawai Dayak bisa dilaksanakan setelah pandemi Covid-19.

“Tahun lalu ditiadakan, namun kebijakan pemerintah masih status pandemi belum endemi tetap saja harus pakai masker, kalau di luar ruangan boleh tidak menggunakan masker. Kita berharap agar seluruh peserta Gawai ketika di dalam ruangan tetap prokes, sejatinya belum benar-benar habis Covid-nya. Kita liat pergerakan Covid, walaupun sudah melandai dan menurun pemerintah belum menetapkan endemi, jadi tetap harus prokes,” ucapnya.

Ia menambahkan, Pekan Gawai Dayak merupakan event tahunan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan (Jubata) atas keberhasilan, kesehatan, dan keselamatan selama setahun.

“Gawai itu memang event tahunan dan sebuah ucap syukur kita kepada Tuhan, ke Jubata atas keberhasilan, kesehatan, keselamatan yang sudah kita lalui selama setahun, walaupun sudah mengalami pandemi yang berat. Terutama kita masyarakat adat Dayak yang masih berladang mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan pandemi di tahun yang telah lalu,” pungkas Lasarus.