Find Us On Social Media :
Airlangga: Terkendalinya Inflasi Dipengaruhi oleh APBN Sebagai Shock Absorber (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Airlangga: Terkendalinya Inflasi Dipengaruhi oleh APBN Sebagai Shock Absorber

Stefani Windi Ataladjar - Kamis, 18 Agustus 2022 | 17:32 WIB

Sonora.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa harga komoditas pangan di Indonesia saat ini sudah relatif stabil.

“Harga pangan per hari ini relatif sudah stabil. Harga beras itu juga rata-rata masih kuat sekitar Rp10 ribu, daging sapi dan daging ayam pun sudah turun harganya. Demikian pula terkait dengan gula pasir, bawang merah, bawang putih, cabai merah, yang harganya mulai melandai,” kata Airlangga Hartarto dalam keterangan persnya terkait Pembukaan Rakornas Pengendalian Inflasi Tahun 2022 secara virtual, di Jakarta, Kamis (18/08/2022).

Terkait inflasi, Airlangga menyampaikan inflasi pada Juli 2022 berada di angka 4,94 persen.

Tingkat inflasi ini dipengaruhi oleh faktor harga komoditas global dan tekanan inflasi yang terjadi di beberapa daerah.

Inflasi kita 4,94 persen di bulan Juli 2022. Inflasi di paruh waktu 2022 faktornya selain komoditas global juga cuaca kemudian juga terkait dengan tekanan inflasi oleh beberapa daerah dan juga terkait dengan produksi,” ujarnya.

“Tentunya ini lebih baik daripada beberapa negara lain seperti Amerika Serikat 8,5 persen, Singapura 6,7 persen, Eropa 8,9 persen, India 6,7 persen, dan Turki diatas 70 persen,” tuturnya.

Baca Juga: Menko Airlangga: Sorgum Bisa Menjadi Alternatif Pengganti Gandum 

Airlangga menuturkan, terkendalinya inflasi Indonesia dipengaruhi oleh langkah pemerintah melalui  Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber.

“Melalui APBN juga mempertahankan harga energi, sehingga dari kenaikan harga BBM, harga keekonomiannya tidak diteruskan ke masyarakat, bahkan menggunakan subsidi yang angkanya sebesar diatas Rp 500 triliun,” ungkapnya.

Lebih lanjut Airlangga menyebut, terdapat 30 provinsi yang realisasi inflasinya di atas nasional.

Airlangga pun meminta seluruh kepala daerah beserta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga tingkat inflasi di daerahnya.

“Para gubernur untuk ikut menjaga (inflasi) dan melalui TPID agar melakukan ekstra effort agar stabilisasi harga dapat dijaga,” ujarnya.

Selain itu, Airlangga mengungkapkan, partisipasi pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat TPID saat ini mencapai 78 persen, meningkat dari partisipasi tahun lalu yang sebesar 71 persen.

“Ada beberapa daerah yang berprestasi, tentu diharapkan dapat diberikan fasilitas dan tambahan tentunya insentif dari Ibu Menteri Keuangan,” imbuhnya.

Selaku Ketua Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP), Airlangga menyampaikan bahwa pihaknya juga terus berupaya meningkatkan sinergi pemangku kepentingan dalam pengendalian inflasi, terutama menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Ini dilakukan melalui program 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Dari segi keterjangkauan, pemerintah memberikan stimulus ekonomi berupa bansos (bantuan sosial) baik dari APBN maupun APBD. Dari segi ketersediaan, cadangan beras relatif aman melalui Bulog 1-1,5 juta ton. Sementara kelembagaan melalui fasilitas KUR (Kredit Usaha Rakyat) pertanian dan juga sistem resi gudang. Sistem gudang ini yang masih perlu dioptimalisasikan,” ujar Airlangga.

Baca Juga: Menko PMK: Kita Optimis Menjadi Juara Umum ASEAN Para Games ke-XI