Find Us On Social Media :
Profil Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama dari Indonesia (Kompas.com)

Bangga! Ini Profil Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama dari Indonesia

Syahidah Izzata Sabiila - Selasa, 20 September 2022 | 07:00 WIB


Sonora.ID - Nama Pratiwi Sudarmono dikenal sebagai astronot perempuan pertama dari Indonesia. Berikut profil Pratiwi Sudarmono yang pernah terlibat dalam proyek Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Menjadi seorang astronot atau antariksawan masih sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan orang, terlebih seorang wanita.

Seorang astronot haruslah melalui berbagai latihan yang ketat sebelum benar-benar mengalami langsung kehidupan di luar angkasa.

Hal ini karena kondisi bumi dengan di luar angkasa sangat berbeda. Misalnya saja kadar oksigen dan gravitasi yang tidak sama.

Indonesia patut berbangga dengan sosok Pratiwi Sudarmono. Dia tercatat sebagai calon astronot perempuan pertama dari indonesia.

Berikut profil Pratiwi Sudarmono dan perjalananya hingga bisa terlibat dalam proyek NASA seperti dilansir dari Kompas.com.

Baca Juga: Jadi Menteri Wanita Pertama di Indonesia, Inilah Sosok Maria Ulfah Soebadio yang Perjuangkan Nasib Kaum Wanita Hingga Akhir Hayat, Panutan!

Profil Pratiwi Sudarmono

Setelah lulus, Pratiwi Sudarmono melanjutkan studi dan penelitian di Research Institute for Microbial Disease di Osaka University, Jepang.

Di tahun yang sama, dia juga meraih brevet keahlian dalam bidang mikrobiologi klinik.

Pratiwi Sudarmono menjadi wanita Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar doktor (Ph.D.) di bidang kedokteran dari Jepang.

Perjalanan Menjadi Astronot

Setelah mengetahui profil Pratiwi Sudarmono, tentunya banyak yang dibuat penasaran bagaimana seorang wanita bisa menjadi astronot NASA.

Semuanya bermula ketika pemerintah Indonesia melakukan kerja sama dengan NASA pada tahun 1985. Kala itu Pratiwi Sudarmono menjadi ilmuwan yang mewakili Indonesia setelah melalui berbagai seleksi.

Rencananya NASA akan melakukan misi Wahana Antariksa atau Space Shuttle ke luar angkasa dengan pesawat ulang-alik Columbia. Misi tersebut rencananya berlangsung pada 24 Juni 1986 dengan tujuan membawa tiga satelit komersial, yaitu Palapa B3, Skynet 4A dan Westar 6S.

Ada dua kandidat astronot Indonesia yang terpilih, yaitu Pratiwi Sudarmono yang menjadi satu-satunya calon astronot perempuan dari Indonesia dan Taufik Akbar, seorang insinyur telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pratiwi Sudarmono rencananya akan terbang bersama astronot Inggris untuk mengawal peluncuran satelit Palapa dan mengerjakan eksperimen ilmiah di luar angkasa.
Taufik sendiri akan menjadi awak cadangan untuk misi peluncuran STS-61-H di Amerika Serikat.

Sayangnya misi menuju luar angkasa yang akan dilakukan Pratiwi Sudarmono terpaksa dibatalkan hanya beberapa bulan sebelum keberangkatan, tepatnya pada 28 Januari 1986.

Pembatalan tersebut diakibatkan pesawat ulang alik Challenger yang membawa misi peluncuran STS-51-L meledak di udara.

Akibat insiden itu, selama hampir tiga tahun program ulang-alik Amerika tertunda.

Adapun program antariksawan asing yang dijadwalkan ikut juga terlantar, termasuk program yang diikuti oleh Pratiwi Sudarmono.

Nasib penerbangan pun menggantung selama lebih dari 5 tahun.

Kemudian daftar nama calon astronot Indonesia tidak ada lagi dalam list NASA.

Baca Juga: Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama di Indonesia yang Jadi Google Doodle Hari Ini


Berkesempatan Penelitian Bersama NASA

Meski tak jadi terbang ke luar angkasa, Pratiwi Sudarmono mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian yang dilakukan di komplek NASA.

Tak berhenti di situ, Pratiwi Sudarmono juga menjalani berbagai latihan astronot dan mempelajari struktur luar kendaraan luar angkasa.

Pada tahun 1990-an, dia banyak mengembangkan laboratorium dengan dana bantuan presiden yang sering disebutnya sebagai ‘laboratorium indah’.

Berbagai riset dilakukan Pratiwi Sudarmono di laboratorium tersebut, salah satunya pengembangan kit diagnostis untuk penyakit demam berdarah.

Karena keahlian dan kemampuannya, dia kerap menerima sejumlah penghargaan. Salah satunya yaitu penghargaaan GE Indonesia Recognition for Inspiring in STEM award pada tahun 2019.

Saat ini Pratiwi Sudarmono disibukkan menjadi guru besar/profesor kehormatan ilmu mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Demikian profil Pratiwi Sudarmono dan perjalanannya untuk menjadi seorang astronot perempuan pertama dari Indonesia.

Semoga informasi ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda, khususnya kaum perempuan untuk terus berkembang dan menjadi apapun yang diinginkan.