Find Us On Social Media :
Ilustrasi pasar modal (Google)

Kondisi Pasar Modal Dalam Negeri Menjelang Akhir Tahun 2022

Jati Sasongko - Jumat, 18 November 2022 | 15:30 WIB

Palembang, Sonora.ID - Kepala Kantor BEI Sumsel, Hari Mulyono, mengatakan kondisi pasar modal dalam negeri lebih baik dibandingkan negara luar.

Ekonomi Indonesia tahun 2022 hingga Q3 masih dalam kondisi tumbuh 5,72%. Inflasi lebih sedikit tinggi dari tahun lalu karena factor geopolitik yang cukup kuat. Inflasi di level 5,71% namun cukup terkendali. Rupiah juga masih terkendali di angka lima belas ribuan.

“Hal yang menarik tiga bulan berturut-turut selalu positif. IHSG sepanjang tahun mengalami penguatan 7%. Cukup menarik kita berada di level positif,” ujarnya.

Ia menambahkan KTT G20 diharapkan dapat memberi dampak positif khususnya bagi geopolitik dunia. Indonesia diperkirakan jauh dari resesi hanya kemungkinan terjadi perlambatan.

Ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi dan pertumbuhan ekonomi masih ada. Pariwisata diprediksi akan menjadi daya dorong ekonomi Indonesia. Indonesia bisa menjadi penopang ekonomi global. Perdagangan Indonesia baik karena lebih banyak ke negara-negara Cina, asia pasifik yang relative tekanan energi lebih rendah ketimbang ke Eropa dan Amerika.

“Terpenting bagaimana Indonesia bisa menata utang luar negeri dengan menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar. Dibutuhkan penguatan industry dalam negeri. Perlu diapresiasi investor pasar saham kita arus dana dari asing tetap masuk secara kontinyu. Utang Indonesia memiliki tingkat imbal hasil yang kompetitif dan selalu diminati oleh investor local dan luar. Artinya kemampuan dalam negeri untuk membiayai kebutuhan sendiri bisa terpenuhi,” ujarnya.

Ia mengatakan tahun ini ada 54 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa efek Indonesia dan masih ada 41 perusahaan yang mengantri untuk dicatatkan sahamnya di bursa efek Indonesia. Pertumbuhan investor hingga kini mencapai 959.000 investor baru dari target 1 juta investor.

“60% nya ditopang oleh generasi milenial hal ini karena melebarnya perusahaan perusahaan-perusahaan yang go public dan dikenal anak milenilal seperti perusahaan-perusahaan start up. Adanya kemudahan menjangkau pasar modal,” ujarnya.

Baca Juga: Gelar Workshop, KPID Sumsel Targetkan Tata Kelola TV dan Radio Meningkat