Find Us On Social Media :
Kunjungan Kepala BKKBN Sulsel ke kantor BKKBN Jawa Timur dalam rangka studi banding percepatan penurunan stunting (Istimewa)

Studi Banding ke Jatim, BKKBN Sulsel Belajar Inovasi Percepatan Penurunan Stunting

Dian Mega Safitri - Sabtu, 3 Desember 2022 | 08:20 WIB

Sonora.ID - Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan melakukan studi banding ke BKKBN Jawa Timur terkait pelaksanaan program Pembagunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta upaya Percepatan Penurunan Stunting (PPS). Rombongan diterima langsung Kepala BKKBN Jatim, Maria Ernawati.

Kepala BKKBN Sulsel, Andi Rita mengatakan, Jawa Timur dipilih sebagai lokasi kunjungan karena provinsi tersebut merupakan salah satu provinsi besar di Indonesia. Selain itu, banyak prestasi dan inovasi yang diraih Jawa Timur dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana maupun penanganan Stunting.

"Kami melihat BKKBN Jatim punya banyak inovasi dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting, terlihat dari banyaknya prestasi yang diraih dan kesuksesan meraih predikat ZI-WBK WBBM," ujar Andi Rita dalam keterangannya.

Andi Rita berharap, lewat kunjungan ini lahir terobosan bersama dalam pelaksanaan program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting di masing-masing wilayah. Diketahui, angka Stunting di Sulsel terbilang cukup tinggi yaitu 27,4 persen di atas nasional yang mencapai 24,4 persen.

Baca Juga: BKKBN Sulsel - BPKP Lakukan Diseminasi Evaluasi PPS, Ini Hasilnya

Untuk mengejar target 14 persen di tahun 2024, lanjut Rita, perlu dilakukan penguatan strategi dan kolaborasi bersama dalam penanganan stunting. Dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana didukung sebanyak 1.388 Penyuluh dimana 159 diantaranya adalah PPPK, selain itu terdapat 6.682 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dengan total jumlah 20.046 kader.

Andi Rita menyebutkan, terkait penanganan Stunting beberapa kabupaten/kota, pihaknya telah mengembangkan inovasi diantaranya Gerakan “One Egg One Day” di Kabupaten Barru dengan menyasar anak berisiko stunting.

Kemudian, Layanan Terpadu Atasi Stunting dengan Hati (LARAS HATI) di Kabupaten Pangkep, Pembentukan Lorong Pengendali Stunting (LOPIS) di Kota Makassar, Program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) melibatkan pengusaha se-Kabupaten Bulukumba dan Prigram BAAS Kabupaten Enrekang yang mewajibkan setiap ASN menjadi BAAS.

“Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan juga telah membentuk Tenaga Gizi Pendamping Desa yang berfokus pada 250 Lokus Stunting di Sulawesi Selatan,” tambah Andi Rita.

Sementara, Kepala BKKBN Jatim, Maria Ernawati menuturkan, sebuah kehormatan mendapat kunjungan dari BKKBN Sulsel. Ia menyebutkan, untuk pelaksanaan program Bangga Kencana dan PPS, BKKBN Jatim memanfaatkan teknologi informasi dengan mengembangkan beberapa aplikasi berbasis web dan android untuk memudahkan dalam monitoring dan pelaksaan program.

"Karena kondisi mendorong kita harus berinovasi dalam bekerja, kita harus bekerja tidak seperti biasanya, dimana jatim merupakan provinsi besar dengan jumlah penyuluh dan kader yang ribuan perlu dikembangkan inovasi agar bisa melaksanakan monitoring secara efektif," imbuh Ernawati.

Baca berita update lainnya dari Sonora.id di Google News.