Kepala Perpusnas Muhamad Syarif Bando menggelar pertemuan secara virtual bersama Komisi X DPR dan Lembaga Guna Penguatan Literasi.
Kepala Perpusnas Muhamad Syarif Bando menggelar pertemuan secara virtual bersama Komisi X DPR dan Lembaga Guna Penguatan Literasi. ( Dok Perpusnas)

Perpusnas : Literasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat

23 Februari 2021 06:18 WIB

Jakarta, Sonora.Id - Kebiasaan membaca buku membuat suatu waktu berinovasi, sehingga merangsang orang berproduksi barang dan jasa yang bermutu. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang hebat bila terbiasa memproduksi, bukan sekedar menjadi konsumen semata.

Kepala Perpustakaan, Muhammad Syarif Bando mengatakan literasi sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat. Literasi terbagi 4 tingkatan, yakni kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, memahami yang tersirat dari yang tersurat dan mengemukan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru.

“Nah yang keempat inilah puncaknya yakni mampu menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Jadi literasi tidak lagi sekedar bisa membaca namun memproduksi,” ujar Syarif Bando dalam keterangan yang diterima Redaksi Sonora.Id.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo fokus RPJMN 2020-2024 yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Literasi menentukan kesejahteraan karena percaturan global sudah pada tingkat literasi. Maka Perpusnas sejak 2017 diusulkan menjadi priotitas nasional untuk transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Hal ini guna membuktikan bahwa literasi itu bisa mengubah nasib orang menjadi sejahtera dan akhirnya di bawah Presiden Joko Widodo, program ini menjadi prioritas nomor 1.

Saat ini literasi Tiongkok berada jauh diatas Indonesia, bahkan mereka memimpin dunia dalam percaturan kompetisi global. Sementara penduduk Indonesia banyak menjadi konsumen dan rendah memproduksi karena dampak dari rendahnya tingkat literasi.

Maka dari itu, Perpusnas memberikan aksestabilitas digital untuk semua mahasiswa di seluruh nusantara di era study from home (SFH) ini. Diakui Perpusnas Indonesia saat ini menjadi perpustakaan terbaik ketiga di dunia pada top open access journal ilmiah dengan kurang lebih 4 milyar artikel. Selain mahasiswa, layanan tersebut juga diberikan kepada tenaga pendidik dan semua sekolah.

“Karena pada akhirnya persaingan global dalam tatatan ekonomi dunia adalah siapa yang bisa menciptakan produksi untuk konsumsi massal. Saat ini kita dipaksa hidup dengan teknologi yang bergerak sangat cepat,” ujar Bando.

Indonesia dengan 270 juta penduduk saat ini dan diprediksi 50 tahun kedepan penduduk Asia akan menjadi sebanyak 5 milyar, Eropa 800 juta, Amerika Utara 1-1,2 milyar. Ini artinya benua Asia akan menjadi pusat baru kehidupan manusia, dan jantungnya adalah Indonesia yang bakal menjadi tema sentral literasi dalam menciptakan barang dan jasa bermutu.

Namun sayangnya, berdasar standar Unesco setiap orang minimal membaca 3 buku baru setiap tahun. Kalau penduduk Indonesia 270 juta, maka membutuhkan 810 juta buku beredar di masyarakat setiap tahun. Namun total jumlah bahan bacaan hanya mencapai 22, 3 juta eksemplar dengan rasio nasional 0,0098 atau tidak mencapai 1 persen.

Sementara Eropa bisa mencapai 15-20 buku per tahun, Amerika Utara bisa 25 buku setahun. Artinya Indonesia mengalami ketertinggalam jauh. Jadi jangan menghakimi anak-anak Indonesia di sisi hilir yang rendah budaya baca, tetapi ini dikarenakan tidak disiapkannya buku yang beredar di masyarakat.

Video Pilihan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
92.0 fm
98.0 fm
90.4 fm
102.6 fm
93.3 fm
97.4 fm
98.9 fm
101.1 fm
96.0 fm
96.7 fm
99.8 fm
98.9 fm
98.8 fm
90.8 fm
97.5 fm
91.3 fm
94.4 fm
91.8 fm
102.1 fm
98.8 fm
95.9 fm
88.9 fm
101.8 fm
97.8 fm
101.1 fm
101.8 fm
101.1 Mhz Fm
101.2 fm
101.8 fm
102.1 fm