Find Us On Social Media :
UMKM Ibu-ibu istri nelayan di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sedang mengolah hasil ikan hasil binaan Pertamina. (Istimewa)

Pertamina Hulu Mahakam Dukung Nelayanku Hebat lewat Inovasi Apartemen Ikan

Jumar Sudiyana - Senin, 13 Desember 2021 | 09:17 WIB

Kukar, Sonora.id - Nelayan tradisional di pesisir Delta Mahakam, Kutai Kartanegara menghadapi tiga tantangan yang kerap dihadapi saat melaut, yaitu kondisi geografis dan alam, praktik perikanan yang tidak ramah lingkungan, dan faktor ketidakberdayaan nelayan. Ketiga hal itu kerap menyebabkan ekonomi nelayan di pesisir Delta Mahakam sulit berkembang.

“Sebagai perusahaan yang juga beroperasi di wilayah Delta Mahakam, PHM-SPU telah mengidentifikasi hal-hal tersebut sehingga untuk membantu mengatasinya, diluncurkanlah program Nelayanku Hebat pada 2018. Nelayanku Hebat adalah kependekan dari Nelayan Kuat, Harmonis, Berdaya, dan Bermartabat,” ujar Hosna Wiranto Nasution, Field Manager PT Pertamina Hulu Mahakam-Lapangan South Processing (PHM-SPU), Senin (13/12).

Program Nelayanku Hebat dilakukan di wilayah Pesisir Delta Mahakam Desa Muara Pantuan dan Sepatin Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara. Wilayah ini menjadi Ring 1 desa binaan PHM - SPU. “PHM-SPU membina 12 kelompok beranggotakan 170 orang dari dua desa, sebagai motor penggerak program sebagai local hero Sdr H.Azis (Ketua KUB Pantuan Jaya),” ujar Hosna.

Sejak ada Program Nelayanku Hebat, aktifitas nelayan tangkap menjadi berkelanjutan. Sejak mengubah penggunaan trawl yang sangat masif di pesisir Delta Mahakam, menjadi penggunaan inovasi apartemen ikan yang ramah lingkungan dengan bahan dari bambu, beton dan partisi sehingga 32,4 Ha area mangrove terselamatkan.

Menurut Hosna, efektifitas apartemen ikan didukung oleh peralatan GPS dan fish finder yang dikenalkan oleh PHM-SPU untuk memastikan akurasi titik tangkap nelayan saat melaut. Dari perubahan cara melakukan usaha tangkap ini sudah mengurangi pemakaian bahan bakar kapal dan lebih efektif ketimbang sebelumnya. “Dari penghematan bahan bakar kapal, kegiatan nelayan dapat mengurangi emisi sebesar 7.628,7 ton CO2/tahun,” katanya.

Menurut Hosna, program ini juga menjawab sinergitas kegiatan antara operasional migas, jalur pelayaran dan usaha tangkap nelayan. Hasil dari program ini, meningkatnya pendapatan para nelayan sebesar 115%. Pada musim paceklik sekitar + 90 hari/tahun nelayan juga tetap produktif, dengan adanya bengkel nelayan yang difasilitasi oleh PHM – SPU dan menjadi bengkel pertama di pesisir yang dikelola oleh kelompok nelayan, penghematan perawatan sarana prasarana nelayanpun mencapai 4,8 juta/tahun.

Bupati Kutai Kartanegara Edi Darmansyah juga mendukung Program Nelayanku Hebat saat bupati mengunjungi Desa Muara Pantuanuntuk memantau efektifitas alat bantu tangkap ikan nelayan binaan PHM pada Februari 2021. Bupati Edi menyambut baik pelaksanaan program ini dan berharap dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Dalam menjalankan program Nelayanku Hebat, PHM-SPU berkolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara. Sinergi dilakukan dalam menentukan titik-titik rumpon yang menjadi area para nelayan mencari ikan. Titik-titik yang diidentifikasi telah dipastikan aman dari kegiatan operasi hulu migas sehingga keberadaan berbagai instalasi produksi migas PHM, yang termasuk kategori Objek Vital Nasional (Obvitnas), ikut terjaga.

“Kami juga diajarkan oleh PHM-SPU bagaimana caranya menggunakan teknologi GPS dan Fishfinder, yang menjadi informasi lokasi titik rumpon kami sehingga kami tidak perlu lagi boros fuel (BBM) untuk berkeliling mencari titik rumpon, terutama ketika penanda rumpon kami hilang. Kami juga terbebeas dari punggawa (tengkulak),” kata Azis.

Hosna mengatakan, prlibatan dua orang penyandang disabilitas dalam kegiatan bengkel pun terjadi, ini sebagai bentuk kepedulian dan pemberdayaan kaum rentan oleh kelompok nelayan, agar mereka bisa mendapatkan kesempatan dan penghasilan dari keterbatasan yang ada.