Find Us On Social Media :
Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Hetifah Sjaifudian. (Dok. Kompas.com)

Anggota Komisi X DPR: Cegah Penyebaran Virus Hepatitis, Sekolah Wajib Tutup Kantin

Stefani Windi Ataladjar - Selasa, 17 Mei 2022 | 14:20 WIB

Sonora.ID - Dunia digegerkan dengan merebaknya fenomena virus hepatitis misterius. Indonesia menjadi salah satu negara yang terjangkit.

Melihat hal itu, Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Hetifah Sjaifudian memahami virus ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, mengingat hepatitis banyak menyerang anak dan beriringan dengan masuknya sekolah paska libur panjang Lebaran 1443 H.  

Di sisi lain, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sudah mendesak dilakukan guna mengejar ketertinggalan learning loss selama Covid-19.

“Sejauh ini, diketahui bahwa secara umum penularan hepatitis melalui oral bukan udara seperti Covid-19. Penularan hepatitis diduga melalui tangan, air, makanan, hingga alat makan. Sehingga, Pembelajaran Tatap Muka masih dapat dilaksanakan selama kebersihan makan dan minum anak terjaga,” tutur Hetifah dalam keterangan resminya.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Masih Impor, Kali Ini Indonesia Ditantang Buat Vaksin Hepatitis Akut

Sebagaimana diketahui, Indonesia menjadi salah satu negara yang terjangkit.

Hingga 9 Mei 2022, tercatat Indonesia memiliki 15 kasus hepatitis akut dengan mayoritas korban adalah anak usia 1-6 tahun.

Penyakit ini telah menyebar ke 5 provinsi di Indonesia dan memakan 5 korban jiwa.

Oleh karena itu, Hetifah mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengambil langkah penanggulangan dengan mengeluarkan surat edaran. 

“Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran, namun untuk khalayak umum. Oleh karena itu, saya mendesak Kemendikbudristek agar turut mengeluarkan surat edaran langkah pencegahan virus hepatitis khususnya di lingkungan sekolah. Misalnya, sementara waktu, kantin wajib tutup, pelajar wajib bawa bekal, protokol kesehatan seperti cuci tangan dan memakai masker juga harus tetap dilaksanakan di lingkungan sekolah,” tegas Hetifah.

Selain itu, Hetifah juga berharap vaksinasi hepatitis semakin digalakkan. Sebab Hetifah menilai, vaksinasi hepatitis di Indonesia masih belum maksimal.

“Walau vaksin hepatitis telah diwajibkan bagi bayi Indonesia, cakupannya belum maksimal. Saya berharap pemerintah menggalakkan vaksin ini lebih massif. Agar tercipta kekebalan jangka panjang,” ucapnya.

Baca Juga: Dirawat di Makassar, Dinkes: Pasien Masih Probable Hepatitis Misterius

Sebagaimana diberitakan, pada 1 Mei 2022,  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait adanya 228 kasus hepatitis yang terjadi di 20 negara.

Hingga saat ini, WHO dan banyak negara masih melakukan investigasi terhadap penyebab dan perkembangan penyakit hepatitis misterius tersebut.