Find Us On Social Media :
Contoh puisi karya Chairil Anwar. (Kemdikbud)

30 Contoh Puisi Karya Chairil Anwar yang Populer di Masyarakat

Arista Estiningtyas - Kamis, 4 Mei 2023 | 12:20 WIB

Sonora.ID - Chairil Anwar merupakan salah sastrawan ternama dari Medan, Indonesia. Ia merupakan seorang penyair Angkatan ‘45.

Chairil Anwar lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri, Riau. Sedangkan, ibunya bernama Saleha berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota.

Awal mula Chairil Anwar mengenal dunia sastra adalah ketika ia memasuki usia 19 tahun. Namun, namanya baru mulai dikenal ketika tulisannya dimuat pada Majalah Nisan di tahun 1942.

Chairil Anwar telah menciptakan berbagai macam karya yang sampai saat ini masih terus dikenal, contohnya,  puisi dengan judul “Aku” dan “Krawang Bekasi.”

Chairil Anwar meninggal dunia memasuki usia yang belum genap 27 tahun. Meski kehidupannya terbilang singkat, namun karya-karya hingga kini masih melekat di hati masyarakat.

Berikut ini pun kami sajikan kumpulan contoh puisi karya Chairil Anwar yang sangat populer.

Baca Juga: 10 Puisi Sapardi Djoko Damono: Yang Terbaik dan Paling Terkenal

Contoh Puisi Karya Chairil Anwar

Puisi 1

Merdeka

Aku mau bebas dari segala

Merdeka

Juga dari Ida

Pernah

Aku percaya pada sumpah dan cinta

Menjadi sumsum dan darah

Seharian kukunyah kumamah

Sedang meradang

Segala kurenggut

Ikut bayang

Tapi kini

Hidupku terlalu tenang

Selama tidak antara badai

Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai

Mengapa kalau beranjak dari sini

Kucoba dalam mati.

Puisi 2

Kesabaran

Aku tak bisa tidur

Orang ngomong, anjing nggonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam suara bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! Tidak jadi apa-apa!

Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali

Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang mesti tiba

Puisi 3

Kawanku dan Aku

Kepada L.K. Bohang,

Kami jalan sama. Sudah larut

Menembus kabut.

Hujan mengucur badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali

Hingga hilang segala makna

Dan gerak tak punya arti.

Puisi 4

Dendam

Berdiri tersentak

Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku

Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari

Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari

Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak.

Puisi 5

Cerita

Kepada Darmawidjaya,

Di pasar baru mereka

Lalu mengada-menggaya.

Mengikat sudah kesal

Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu

Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal

Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat

Ini renggang terus terapat.

Puisi 6

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah.

Puisi 7

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang